Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

Sunan Kudus

Sabtu, 08 Februari 2014 | 0 komentar

SUNAN KUDUS Ja'far Sodiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, adalah putera dari Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan. Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agama Islam disekitar daerah Kudus khususnya dan di Jawa Tengah pesisir utara pada umumnya. beliau terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/sunan-kudus/10150767055090111

Pantai Rancah Babakan Nusakambangan_Cilacap

Sabtu, 01 Februari 2014 | 0 komentar

Terletak diujung paling barat Pulau Nusakambangan yang berjarak 35 km dari dermaga Sodong. Untuk menuju pantai ini melalui alur selat Nusakambangan – Segara Anakan melewati Desa Klaces Kecamatan Kampung Laut.

Sepanjang perjalanan melewati 4 LP yang masih berfungsi yaitu LP Batu, Besi, Kembang Kuning dan Permisan serta melewati Kecamatan Kampung Laut yang berada di Klaces dengan pemandangan hutan mangrove di kiri kanan alur sungai dan pemandangan pegunungan serta selat Indralaya.

Pantai Ranca Babakan tergolong pantai yang masih perawan karena belum banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini, karena memang jalur yang menuju ke pantai belum memadai.Aksesibilitas :

Dari Pelabuhan Seleko Cilacap naik perahu compreng – menyusuri alur selat Nusakambangan – Segara Anakan – melewati Desa Klaces Kec. Kampung Laut - dilanjutkan menuju Plawangan – Turun di Pantai dekat Plawangan – dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan tikus menuju lokasi.

Layanan informasi :

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Cilacap

Jl. A. Yani Telp. 0282-534481 

email : diparta_clp@yahoo.co.id



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/pantai-rancah-babakan-nusakambangan_cilacap/10151709968810111

Sunan Kalijaga

Kamis, 30 Januari 2014 | 0 komentar

Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.

Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Menurut cerita,Sebelum menjadi Walisongo,Raden Said menjadi seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi.Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin.Suatu hari,Saat Raden Said ke hutan,ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat.Orang itu adalah Sunan Bonang.Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas,ia merampas tongkat itu.Katanya,hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin.Tetapi,Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu.Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk.Lalu,Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha,maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang.Karena itu,Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang.Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai.Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya.Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tep sungai.Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang.Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut.Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama.Karena lamanya ia tertidur,tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya.Tiga tahun kemudian,Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said.Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai,maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga.Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang.Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang. 

Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang. sumber : Wikipedia



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/sunan-kalijaga/10150748912550111

TAMAN DJAMOE INDONESIA

Sabtu, 25 Januari 2014 | 0 komentar

Taman Djamoe Indonesia adalah wujud nyata kepedulian Ibu Meneer terhadap kelestarian aneka jenis tanaman jamu Indonesia. Berawal koleksi tanaman pribadi beliau, yakni Laos (Alpinia Galanga), Salam (Eugeniapolyantha Wight), dan Sereh (Andropogoncitratus), terciptalah ide cemerlang untuk mengembangkannya menjadi sebuah taman. Di tangan DR. Charles Saerang, generasi ketiga Ibu Meneer, taman seluas 3 hektar ini dibangun dan didesain kembali dengan begitu cantiknya hingga menjanjikan pemandangan alam penuh pesona. Letak geografis Taman Djamoe Indonesia yang berdekatan dengan gunung Ungaran menciptakan perpaduan alam yang mempesona.



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/taman-djamoe-indonesia/10151514548100111

Kata-kata bijak Ibu Kartini

Rabu, 22 Januari 2014 | 0 komentar

R.A.A. KARTINI DJOJOADININGRAT

Lahir : 21 April 1879

Wafat : 17 September 1904

Himpunan kata-kata bermutu RA Kartini

Kemenangan jang seindah- indahnja dan sesoekar-soekarnja jang boleh direboet oleh manoesia, ialah memoetoeskan diri sendiri;

Paham lama jang soedah toeroen temoeroen, tiada dapat dengan sebentar saja disisihkan akan menggantinja dengan paham baroe;

Berkoeasa barang jang lama itoe, oleh karena masih dihormati orang seloeroeh negeri, tetapi toemboeh moeda jang segar itoe tentoelah akan menang djoea;

Djanganlah berpoetoes asa, dan djanganlah menjesali oentoeng, djanganlah hilang kepertjajaan hidoep. Kesengsaraan itoe membawa nikmat;

Tidak ada jang terdjadi berlawanan dengan rasa kasih. Jang hari ini serasa koetoek besoeknja terasa rachmat. Tjobaan itu adalah oesaha pendidikan Toehan;

Sesuai dengan aslinya ” ejaan lama ”.........(Kiriman Sri Rahayu-Rembang)



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/kata-kata-bijak-ibu-kartini/10150173383460111

Monumen Gianti

Senin, 13 Januari 2014 | 0 komentar

 Monumen Perjanjian Giyanti terletak di Desa Janti kelurahan Jantiharjo Kecamatan Karanganyar Kota. Monumen ini merupakan suatu monumen sejarah yang sangat monumental yang menandai pembagian wilayah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua, yakni Surakarta dan Jogjakarta ( Kasunanan dan Kasultanan ) pada zaman pemerintahan Pakubuwono III sekitar tahun 1755.

Ditempat inilah tersimpan ingatan kolektif masyarakat Indonesia tentang kelicikan Penjajah Belanda dalam menundukkan para penguasa Jawa melalui politik pecah belah (devide et impera).

Selain itu, di tempat ini juga terdapat peninggalan arca yang belum sempurna. Komplek Monumen ini berada di lingkungan desa yang teduh di tepi jalur Matesih – Karanganyar yang sepanjang hari dilewati angkutan regular mikrobus.Monumen Radio Republik Indonesia

Asal-usul didirikannya Monumen RRI di Dukuh Balong adalah berawal dari kedatangan dan pendudukan pasukan Belanda di Kota Solo pada Agresi Militernya yang kedua yaitu pada tahun 1948. Karena, pendudukan itulah maka RRI Surakarta mengungsi ke Balong dengan melalui jalur Palur-Karanganyar-Karangpandan-Balong dengan cara digotong secara bergantian.

RRI Sesampainya di Balong maka perangkat siaran ditempatkan di rumah Bapak Kromo Sentono yang berada di atas bukit. Setelah berjalan dua bulan, Belanda mengetahui keberadaan RRI Surakarta yang berada di Dukuh Balong, maka Belanda mem-mitraliur men-canon Dukuh Balong dari Karangpandan, akan tetapi nasib baik masih berada di pihak RRI , dan selamat. Setelah terjadi serangan dari Karangpandan tersebut maka kemudian RRI dipindahkan ke rumah Bapak Kerto yang berada di bagian bawah bukit. Rumah Bapak Kerto ini berada di bawah rerimbunan bamboo yang lebat.

Saat itu RRI dikepalai oleh Bapak Maladi yang kemudian diberi pangkat Mayor oleh Bapak Gatot Subroto. Jangkauan siaran RRI Surakarta yang bias mencapai luar negeri membuat pasukan Belanda berusaha mencarinya kembali guna dihancurkan. Maka pada tahun nyang sama (1948) Dusun Balong didatangi oleh Belanda dari empat jurusan. Dari arah utara melalui Sragen, arah barat melalui Kerjo, selatan melalui Karangpandan dan dari arah timur. Lagi-lagi nasib baik masih b pihak ke RRI, persembunyiannya yang berada di bawah rerimbunan pohon bamboo tidak diketahui oleh Belanda. Sore harinya sekitar pukul 17.00 - 18.00 wib Belanda meninggalkan Balong setelah sebelumnya membakar rumah-rumah penduduk dan beberapa markas tentara. Masa pengungsian RRI Surakarta di Balong hanya berlangsung selama sembilan (9) bulan.

Perangkat siaran yang digunakan RRI Surakarta di Balong tersebut saat ini disimpan di museum Jogja Kembali yang berada di Jogjakarta dan diberi nama Kiai Balong. Konon orang-orang menyebut siaran RRI Surakarta yang berada di Balong tersebut dengan sebutan Radio Kambing.

Asal usul penamaan tersebut karena siaran dilakukan berada dekat dengan kambing-kambing milik Bapak Kromo Sentono, sehingga tidak jarang ketika sedang dilakukan siaran terdengar suara embikan kambing yang masuk ke dalam radio

Monumen ini pertama kali dibangun swadana murni dari RRI Surakarta dengan bentuk sederhana yang menempati bagian lereng bukit dimana dahulu RRI ditempatkan, akan tetapi karena kondisi tanah sering longsor maka monument dipindahkan ke bagian yang lebih atas namun tetap berada di satu komplek.

 



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/monumen-gianti/10151382396345111

WANA WISATA PENGGARON UNGARAN

Rabu, 08 Januari 2014 | 0 komentar

Kawasan Wana Wisata Penggaron yang menurut rencana akan dijadikan Taman Safari Jawa Tengah seluas 20 Ha, Terletak di wilayah administratif Desa Susukan, Kecamatan Ungaran, Kabupaten semarang, sekitar 2 km arah Kota Ungaran atau sekitar 18 km arah Selatan Kota Semarang. Masyarakat sekitar Semarang biasa memanfaatkan Wana Wisata Penggaron ini untuk berbagai aktivitas. Mulai dari olah raga, jungle tracking, outbound training, latihan SAR dan Pramuka, rekreasi, hingga penelitian dan kepentingan ilmu pengetahuan lainnya.



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/wana-wisata-penggaron-ungaran/10151514556015111

Pemikiran Kartini

Minggu, 29 Desember 2013 | 0 komentar

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.

 

 



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/pemikiran-kartini/10151552493810111

Biografi Kartini

Kamis, 26 Desember 2013 | 0 komentar

Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi 

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi[2], maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/biografi-kartini/10151552454055111

Pemilihan mas dan mbak Duta Wisata Jawa Tengah 2012

Selasa, 10 Desember 2013 | 0 komentar

#oldpost -

Hasil Lengkap Pemenang

JUARA UTAMA      

JUARA 1    

PUTRA   HARYOGO ADITNANTRA PRIYANTO KAB.BANYUMAS

PUTRI   MARTINA FIANI KOTA MAGELANG      

JUARA 2    

PUTRA   MAGMA MALIK DAHONO KAB. SEMARANG

PUTRI   NABILLA SHABRINA KAB. KENDAL      

JUARA 3    

PUTRA   FIRMANSYAH WIDIYAWAN HERMANTO KAB. MAGELANG

PUTRI   CHARISMA AJENG SEKAR RINI KAB. BOYOLALI      

JUARA HARAPAN 1    

PUTRA   ADE SONY NOVERIANTO KAB. GROBOGAN

PUTRI   DISMA AJENG RASTITI KAB. GROBOGAN                              

JUARA HARAPAN 2    

PUTRA   KIKI TOFA YULIANTO KAB. WONOSOBO

PUTRI   RAKHMI WIJIHARTI KAB.BANYUMAS      

JUARA HARAPAN 3    

PUTRA   ADHITYA PUTRA SAGITA KOTA MAGELANG

PUTRI   SISKA NUR AINI KOTA SEMARANG      

JUARA ATRIBUT    

JUARA FAVOURIT

PUTRA   WISNU WIJAYA KAB. BATANG

PUTRI   SHERLY SUSTIANA SAPUTRI KAB. WONOSOBO      

JUARA PERSAHABATAN    

PUTRA   AJI LITER SANTOSO KAB. BREBES

PUTRI   ELISABETH CLARISSA ALVITA MURTI KAB. KARANGANYAR      

JUARA KEPRIBADIAN    

PUTRA   DANNY ADAM KURNIAWAN KAB. SUKOHARJO

PUTRI   NAILA IZZATUS SA'ADAH KAB. PEMALANG      

JUARA BUSANA TERBAIK    

PUTRA   ARDITIYA PRATAMA SUGIHARTA KAB. KARANGANYAR

PUTRI   SALMA ADHENIA KELIMA UTAMI KAB. DEMAK                      

JUARA INTELEGENSIA    

PUTRA   MAYSTA BANGKIT WIDHI MARYENDRA KAB.WONOGIRI

PUTRI   SABRINA MARIA GORETTY KAB. PURWOREJO

















Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/pemilihan-mas-dan-mbak-duta-wisata-jawa-tengah-2012/10152272280860111
 
Copyright © -2012 informasi nusantara All Rights Reserved | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks