Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email

Sunan Kudus

Sabtu, 08 Februari 2014 | 0 komentar

SUNAN KUDUS Ja'far Sodiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, adalah putera dari Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan. Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agama Islam disekitar daerah Kudus khususnya dan di Jawa Tengah pesisir utara pada umumnya. beliau terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/sunan-kudus/10150767055090111

Pantai Rancah Babakan Nusakambangan_Cilacap

Sabtu, 01 Februari 2014 | 0 komentar

Terletak diujung paling barat Pulau Nusakambangan yang berjarak 35 km dari dermaga Sodong. Untuk menuju pantai ini melalui alur selat Nusakambangan – Segara Anakan melewati Desa Klaces Kecamatan Kampung Laut.

Sepanjang perjalanan melewati 4 LP yang masih berfungsi yaitu LP Batu, Besi, Kembang Kuning dan Permisan serta melewati Kecamatan Kampung Laut yang berada di Klaces dengan pemandangan hutan mangrove di kiri kanan alur sungai dan pemandangan pegunungan serta selat Indralaya.

Pantai Ranca Babakan tergolong pantai yang masih perawan karena belum banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini, karena memang jalur yang menuju ke pantai belum memadai.Aksesibilitas :

Dari Pelabuhan Seleko Cilacap naik perahu compreng – menyusuri alur selat Nusakambangan – Segara Anakan – melewati Desa Klaces Kec. Kampung Laut - dilanjutkan menuju Plawangan – Turun di Pantai dekat Plawangan – dilanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan tikus menuju lokasi.

Layanan informasi :

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Cilacap

Jl. A. Yani Telp. 0282-534481 

email : diparta_clp@yahoo.co.id



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/pantai-rancah-babakan-nusakambangan_cilacap/10151709968810111

Sunan Kalijaga

Kamis, 30 Januari 2014 | 0 komentar

Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.

Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Menurut cerita,Sebelum menjadi Walisongo,Raden Said menjadi seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi.Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin.Suatu hari,Saat Raden Said ke hutan,ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat.Orang itu adalah Sunan Bonang.Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas,ia merampas tongkat itu.Katanya,hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin.Tetapi,Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu.Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk.Lalu,Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha,maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang.Karena itu,Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang.Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai.Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya.Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tep sungai.Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang.Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut.Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama.Karena lamanya ia tertidur,tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya.Tiga tahun kemudian,Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said.Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai,maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga.Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang.Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang. 

Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang. sumber : Wikipedia



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/sunan-kalijaga/10150748912550111

TAMAN DJAMOE INDONESIA

Sabtu, 25 Januari 2014 | 0 komentar

Taman Djamoe Indonesia adalah wujud nyata kepedulian Ibu Meneer terhadap kelestarian aneka jenis tanaman jamu Indonesia. Berawal koleksi tanaman pribadi beliau, yakni Laos (Alpinia Galanga), Salam (Eugeniapolyantha Wight), dan Sereh (Andropogoncitratus), terciptalah ide cemerlang untuk mengembangkannya menjadi sebuah taman. Di tangan DR. Charles Saerang, generasi ketiga Ibu Meneer, taman seluas 3 hektar ini dibangun dan didesain kembali dengan begitu cantiknya hingga menjanjikan pemandangan alam penuh pesona. Letak geografis Taman Djamoe Indonesia yang berdekatan dengan gunung Ungaran menciptakan perpaduan alam yang mempesona.



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/taman-djamoe-indonesia/10151514548100111

Kata-kata bijak Ibu Kartini

Rabu, 22 Januari 2014 | 0 komentar

R.A.A. KARTINI DJOJOADININGRAT

Lahir : 21 April 1879

Wafat : 17 September 1904

Himpunan kata-kata bermutu RA Kartini

Kemenangan jang seindah- indahnja dan sesoekar-soekarnja jang boleh direboet oleh manoesia, ialah memoetoeskan diri sendiri;

Paham lama jang soedah toeroen temoeroen, tiada dapat dengan sebentar saja disisihkan akan menggantinja dengan paham baroe;

Berkoeasa barang jang lama itoe, oleh karena masih dihormati orang seloeroeh negeri, tetapi toemboeh moeda jang segar itoe tentoelah akan menang djoea;

Djanganlah berpoetoes asa, dan djanganlah menjesali oentoeng, djanganlah hilang kepertjajaan hidoep. Kesengsaraan itoe membawa nikmat;

Tidak ada jang terdjadi berlawanan dengan rasa kasih. Jang hari ini serasa koetoek besoeknja terasa rachmat. Tjobaan itu adalah oesaha pendidikan Toehan;

Sesuai dengan aslinya ” ejaan lama ”.........(Kiriman Sri Rahayu-Rembang)



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/kata-kata-bijak-ibu-kartini/10150173383460111

Monumen Gianti

Senin, 13 Januari 2014 | 0 komentar

 Monumen Perjanjian Giyanti terletak di Desa Janti kelurahan Jantiharjo Kecamatan Karanganyar Kota. Monumen ini merupakan suatu monumen sejarah yang sangat monumental yang menandai pembagian wilayah Kerajaan Mataram Islam menjadi dua, yakni Surakarta dan Jogjakarta ( Kasunanan dan Kasultanan ) pada zaman pemerintahan Pakubuwono III sekitar tahun 1755.

Ditempat inilah tersimpan ingatan kolektif masyarakat Indonesia tentang kelicikan Penjajah Belanda dalam menundukkan para penguasa Jawa melalui politik pecah belah (devide et impera).

Selain itu, di tempat ini juga terdapat peninggalan arca yang belum sempurna. Komplek Monumen ini berada di lingkungan desa yang teduh di tepi jalur Matesih – Karanganyar yang sepanjang hari dilewati angkutan regular mikrobus.Monumen Radio Republik Indonesia

Asal-usul didirikannya Monumen RRI di Dukuh Balong adalah berawal dari kedatangan dan pendudukan pasukan Belanda di Kota Solo pada Agresi Militernya yang kedua yaitu pada tahun 1948. Karena, pendudukan itulah maka RRI Surakarta mengungsi ke Balong dengan melalui jalur Palur-Karanganyar-Karangpandan-Balong dengan cara digotong secara bergantian.

RRI Sesampainya di Balong maka perangkat siaran ditempatkan di rumah Bapak Kromo Sentono yang berada di atas bukit. Setelah berjalan dua bulan, Belanda mengetahui keberadaan RRI Surakarta yang berada di Dukuh Balong, maka Belanda mem-mitraliur men-canon Dukuh Balong dari Karangpandan, akan tetapi nasib baik masih berada di pihak RRI , dan selamat. Setelah terjadi serangan dari Karangpandan tersebut maka kemudian RRI dipindahkan ke rumah Bapak Kerto yang berada di bagian bawah bukit. Rumah Bapak Kerto ini berada di bawah rerimbunan bamboo yang lebat.

Saat itu RRI dikepalai oleh Bapak Maladi yang kemudian diberi pangkat Mayor oleh Bapak Gatot Subroto. Jangkauan siaran RRI Surakarta yang bias mencapai luar negeri membuat pasukan Belanda berusaha mencarinya kembali guna dihancurkan. Maka pada tahun nyang sama (1948) Dusun Balong didatangi oleh Belanda dari empat jurusan. Dari arah utara melalui Sragen, arah barat melalui Kerjo, selatan melalui Karangpandan dan dari arah timur. Lagi-lagi nasib baik masih b pihak ke RRI, persembunyiannya yang berada di bawah rerimbunan pohon bamboo tidak diketahui oleh Belanda. Sore harinya sekitar pukul 17.00 - 18.00 wib Belanda meninggalkan Balong setelah sebelumnya membakar rumah-rumah penduduk dan beberapa markas tentara. Masa pengungsian RRI Surakarta di Balong hanya berlangsung selama sembilan (9) bulan.

Perangkat siaran yang digunakan RRI Surakarta di Balong tersebut saat ini disimpan di museum Jogja Kembali yang berada di Jogjakarta dan diberi nama Kiai Balong. Konon orang-orang menyebut siaran RRI Surakarta yang berada di Balong tersebut dengan sebutan Radio Kambing.

Asal usul penamaan tersebut karena siaran dilakukan berada dekat dengan kambing-kambing milik Bapak Kromo Sentono, sehingga tidak jarang ketika sedang dilakukan siaran terdengar suara embikan kambing yang masuk ke dalam radio

Monumen ini pertama kali dibangun swadana murni dari RRI Surakarta dengan bentuk sederhana yang menempati bagian lereng bukit dimana dahulu RRI ditempatkan, akan tetapi karena kondisi tanah sering longsor maka monument dipindahkan ke bagian yang lebih atas namun tetap berada di satu komplek.

 



Penulis: DESTINASI JAWA TENGAH

Sumber artikel: /notes/destinasi-jawa-tengah/monumen-gianti/10151382396345111
 
Copyright © -2012 informasi nusantara All Rights Reserved | Template Design by Favorite Blogger Templates | Blogger Tips and Tricks